Penampakan Naga di China

Friday, May 14, 2010




Sosok naga telah merasuk ke dalam semua aspek kebudayaan Tiongkok kuno, dan telah menjadi simbol spiritual yang kuat bagi orang Tionghoa. Apakah naga benar-benar ada? Sejumlah buku sejarah Tiongkok telah mencatat beberapa kesaksian tentang keberadaan naga, yang membuat menarik untuk diteliti kembali apakah naga tersebut benar-benar ada.

Sebuah catatan untuk distrik Ye dari dinasti Qing, menyatakan: “Pada 1503 M [dinasti Ming, 16 tahun kekuasaan Kaisar Hongzhi], lima naga berterbangan sekitar 10 Li [3 mil] sebelah utara gerbang kota Ye, Provinsi Henan. Setelah lama melayang-layang, mereka jatuh ke tanah dan tidak mampu terbang lagi.

“Langit mendung, dan lautpun mulai bergolak. Dewa dengan busana hijau turun dari langit, dan segera dikelilingi oleh naga yang jatuh tersebut. Sesaat kemudian, awan mulai cerah dan laut tenang kembali. Lima naga itu masih tidak mampu terbang jauh. Pada saat itu pula Dewa dengan busana hijau lain turun, dan naga-naga tersebut merangkak mengelilingi Dewa itu. Awan dan kabut tebal muncul kembali. Ketika langit mulai cerah, Dewa serta kelima naga itu telah pergi.”

The Fortune, mencatat fenomena aneh, Pemerintah Daerah Jiaxing menceritakan kisah serupa: “Pada bulan September 1588 M, naga putih terlihat di danau Ping, wilayah Pinghu, Provinsi Zhejiang. Naga itu sedang terbang di atas danau, menerangi sebagian langit dengan cahaya merah.”

“Saksi mata Shen Maoxiao, seorang pejabat pencatat sejarah istana kerajaan, telah melihat Dewa berbusana ungu dengan mahkota emas, berdiri pada ketinggian lebih dari 30 meter [sekitar 98 kaki] diantara tanduk naga. Dewa ini sedang menghunus benda yang menyerupai pedang. Nampak pula selapis cahaya sebesar duo [sebuah wadah untuk ukuran orang Tionghoa] di bawah kepala naga tersebut.”

The Fortune, bagi daerah Songjiang mencatat sebuah kesaksian bahwa setelah 20 tahun penampakan naga putih di wilayah Pinghu, pada Juli 1608, naga putih yang nampak di Danau Ping ini, terlihat di Sungai Huangpu, wilayah Songjiang, Shanghai. Nampak pula dewa yang berdiri diatas kepala naga tersebut.

Seksi lima elemen dari Catatan Dinasti Han yang dikutip Seksi Catatan Fenomena Wilayah Luoyang, mencatat adanya penampakan naga di istana kekaiasaran. Liu Hong, kaisar dari dinasti Dong Han, yang kini menjadi ibukota Luoyang, Provinsi Henan; Istana Wenming yang kemungkinan di mana tempat ia tinggal.

Pada 1 Juli 178 M, benda hitam jatuh dari langit sebelah timur halaman istana Wenming. Benda itu berbentuk bulat mirip kanopi kereta kuno. Panjangnya lebih dari 20 meter (65 kaki) dan berputar dengan cepat serta mengeluarkan cahaya dengan warna berbeda. Benda itu memiliki kepala namun tidak memiliki kaki dan ekor. Nampak seperti seekor naga.

Seksi Lima Elemen dari Sejarah Dinasti Yuan menyatakan sebagai berikut: “Juli pada 27 tahun masa pemerintahan Kaisar Zhiyuan (Agustus 1290 M), di sana muncul seekor naga dekat gunung Long, di wilayah Linxong, Provinsi Shandong. Naga itu mampu mengangkat batu seberat setengah ton sambil melayang-layang di udara.”

Dalam 24 tahun pemerintahan Kaisar Jian’an pada Dinasti Dong Han (219 M), seekor naga kuning muncul di Sungai Chishui, kota Wuyang dan menetap di sana selama sembilan hari sebelum akhirnya menghilang. Sebuah kuil dibangun dan sebuah bilik didirikan di dalam kuil tersebut untuk menghormati penampakan naga itu.

Pada April, setahun pemerintahan Kaisar Yonghe, pada Dinasti Dong Jin (345 M), dua naga, hitam dan putih, muncul di Gunung Long (yang berarti Gunung Naga). Murong, Kaisar Kerajaan Yan, yang dipimpin sejumlah pejabat pengadilan pergi ke gunung tersebut, menyelenggarakan upacara pemujaan sekitar 600 kaki dari naga itu.

Sejumlah kitab sejarah lokal dari dinasti Ming dan Qing juga mengulas adanya penampakan naga. Menurut “Catatan Pemerintah Daerah Linan,” pada 4 tahun masa pemerintahan Kaisar Chongzhen (1631 M), naga raksasa nampak di Danau Yilong (yang berarti Danau Naga Aneh), tenggara Wilayah Shiping, Provinsi Yunan.

Catatan ini menyatakan, “kumis, kaki dan sisik naga dengan panjang beberapa puluh meter ini berada di atas permukaan air.” Naga ini kemungkinan muncul lebih dari sekali di sekitar Gunung Long dan Danau Yilong.

“Perkembangan Catatan dari Dinasti Tang” mencatat bahwa satu hari dalam catatan akhir tahun pemerintahan Kaisar Xiantong, seekor naga hitam jatuh di wilayah Tongcheng dan tewas di sana dengan luka di tenggorokan. Panjang naga itu lebih dari 30 meter.

Ekor lempeng, sisiknya seperti sisik ikan, dengan kepala bertanduk dua. Memiliki kumis di sisi mulut yang panjangnya lebih dari 6 meter. Kakinya tumbuh di bawah perut, serta memiliki selaput merah yang menutupi bagian tubuhnya.

The Seven Books and Scriptures oleh Long Ying mencatat bahwa suatu hari tahun terakhir Chenghua, pada Dinasti Ming, seekor naga jatuh di pantai wilayah Xinhua, provinsi Guangdong. Naga itu dipukul hingga mati oleh nelayan setempat. Naga tersebut setinggi orang dewasa dengan panjang puluhan meter. Nampak seperti naga dalam lukisan klasik dimana perutnya berwarna merah.

Seekor naga mati ditemukan di Danau Taibai pada masa 32 tahun pemerintahan Kaisar Shaoxing dari Dinasti Nan Song (1162). Naga itu memiliki kumis panjang dan berukuran besar. Dengan punggung hitam dan perut berwarna putih. Sirip tumbuh pada punggung naga tersebut dan dua tanduk besar terdapat di kepalanya. Dapat mencium bau hingga jarak beberapa mil.

Masyarakat setempat menutupnya dengan tikar. Pemerintah kala itu mengirim orang-orang untuk melakukan pemujaan pada tempat tersebut. Namun, setelah semalaman terjadi hujan badai dengan petir menggelegar, naga tersebut menghilang. Hanya terdapat selokan pada tempatnya semula.

Sejarah Pemerintah Daerah Yongping mencatat bahwa, pada musim panas masa pemerintahan Kaisar Daonguang (1839), seekor naga jatuh dari langit di sepanjang hilir Sungai Luanhe, wilayah Laoting. Naga itu terbaring diam, dikerumuni lalat dan belatung. Masyarakat setempat membuat tempat berteduh untuk melindunginya dari cahaya matahari dan mereka juga memercikan air dingin ke arah tubuhnya. Tiga hari kemudian, setelah hujan badai tengah malam, naga itupun menghilang.
Penampakannya pada jaman modern

Beberapa peristiwa pada abad lalu juga menjadi pemikiran pandangan terhadap naga-naga tersebut.

Pada Agustus 1944, ratusan penduduk dari desa Chenjiayuanzi, wilayah Fuyu, selatan Sungai Songhuajiang, dikepung seekor hewan hitam pada tepian sungai. Yen Dianyuan, seorang saksi mata, mengatakan bahwa hewan tersebut panjangnya sekitar 7 meter dan nampak seperti kadal.

Rupanya hampir sama dengan naga pada lukisan klasik, dengan tujuh atau delapan kumis tebal. Tubuhnya bagian atas memiliki diameter sepertiga meter. Empat cakarnya tertancap dalam pasir. Sisiknya seperti sisik buaya menutupi seluruh badannya.

Pada musim panas tahun 1953, seekor hewan tak dikenal jatuh dari langit pada suatu tempat di selatan Provinsi Henan. Menurut uraian sejumlah saksi, hewan tersebut terlihat seperti hiu raksasa. Bau busuknya mengundang banyak lalat. Jika itu adalah seekor ikan hiu, ia seharusnya hidup pada laut dalam. Mengapa ia jatuh dari langit? Kasus ini kemungkinan terkait dengan sejumlah catatan sejarah tentang jatuhnya naga dari langit.

Pada 4 Agustus 2000 terjadi hujan lebat di desa Heishanzi, China dan setelah itu desa tersebut tertutup oleh lapisan uap panas. Tiba-tiba, awan tebal turun dari langit. Masyarakat di desa tesebut sangat ketakutan, karena mereka belum pernah menyaksikan cuaca seperti ini sebelumnya. Mereka tinggal di dalam rumah sambil menutup semua pintu dan jendela.

Seorang anak muda memutuskan keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Tidak lama setelah ia keluar dari desanya, tiba-tiba ia tertegun oleh pemandangan dua ekor binatang seperti naga, satu hitam dan satunya putih, berbaring ditanah di depan matanya. Ia melihat bahwa tanduk, sisik, cakar dan ekor binatang itu persis sama dengan lukisan naga tradisional, kecuali kumisnya, terlihat lebih pendek. Ia berbalik dan berlari ke arah desa secepat mungkin, sambil berteriak,”Ayo lihat naga, datanglah melihat naga yang jatuh dari langit!”

Berita itu dengan cepat tersiar ke seluruh wilayah. Polisi, pejabat pemerintahan dan sejumlah ilmuwan bergegas melakukan penyelidikan. Polisi membubarkan kerumunan dan hanya beberapa orang yang ditugaskan untuk menjaga hewan tersebut.

Kemudian, hembusan angin kencang membuat awan gelap bergulung naik-turun. Ketika peristiwa itu berlalu, hewan berwarna putih itu menghilang dari pengawasan para penjaga. Para penjaga tidak dapat menjelaskan bagaimana hilangnya dan mereka frustasi karena yang hitam masih tergeletak.

Seorang petani mengatakan, “Saya pernah mendengar peristiwa seperti ini terjadi beberapa tahun yang lalu dan seluruh masyarakat menyiramkan air ke arah naga itu, yang membuat mereka kembali pulang.” Ia meminta kepada beberapa pemuda desa untuk mengambil tikar dan mereka mendirikan tempat berteduh bagi hewan tersebut. Mereka kemudian menyemprotkan air di atas tikar agar dapat menetes dari tikar itu. Pada Desember 2000, hewan itu masih hidup.

18 September 2000, pukul 6:10, pada saat langit mulai gelap, di kota Wusong, Provinsi Jilin, seberkas cahaya yang tidak seperti biasanya, melesat dari arah barat laut yang dengan tiba-tiba menjadikan terang dan berwarna-warni kota tersebut. Kemudian, makhluk seperti naga muncul. Mulut, kumis, cakar dan sisik semua terlihat dengan jelas. Naga itu terlihat lebih dari 20 menit. Akhirnya, cahaya merah terang itu, redup dalam kegelapan, sebelum perlahan menghilang.

Apakah naga-naga ini hanya imajinasi dalam dunia spiritual atau apakah mereka memiliki keberadaan fisik? Kini, segalanya merupakan misteri bagi kita semua. (EpochTimes/sua)

0 komentar:

Post a Comment

silahkan memberikan komentar anda terhadap artikel ini