Showing posts with label astronomi. Show all posts
Showing posts with label astronomi. Show all posts

Titan Terbukti Punya Lautan

Monday, July 2, 2012

planet evolution (info) ,
NASA Titan

Keberadaan lautan di bawah permukaan Titan, bulan raksasa Planet Saturnus, telah lama diduga. Dalam penelitian terbaru, NASA mengonfirmasi bahwa lautan di bawah permukaan Titan memang benar-benar ada.

NASA melakukan studi dengan bantuan wahana antariksa Cassini yang mengorbit Saturnus sejak tahun 2004. Mereka memanfaatkan saat di mana Cassini melayang di jarak terdekat dengan Titan pada tahun 2006 dan 2011.

Riset fokus pada pengukuran gravitasi dan pengamatan fenomena pasang surut. Ilmuwan mengamati percepatan Cassini untuk mengukur gaya gravitasi. Pengukuran gravitasi akan membantu ilmuwan memecahkan misteri interior Titan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Titan mudah menyusut dan meregang. Kecepatan deformasi tersebut menunjukkan bahwa interior Titan terdiri dari material yang fleksibel, berupa lautan.

"Lautan di bawah permukaan Titan sudah diperkirakan, tapi sebelumnya masih berupa spekulasi. Pengukuran ini menunjukkan pada Anda bahwa lautan itu memang ada," kata Luciano Less, pemimpin studi dan pakar geodesi dari Università La Sapienza di Roma.

Lautan diperkirakan ada di 100 kilometer atau kurang dari permukaan Titan. Meski demikian, kedalaman dan komposisi lautan ini belum diketahui. Juga, belum diketahui apakah ada kehidupan di lautan itu.

"Kami belum bisa mengatakan kedalaman laut itu 10 kilometer atau 100 kilometer. Kami hanya tahu bahwa ada lautan di sana," ungkap Iess seperti dikutip Space, Kamis (28/6/2012).

"Pengukuran kami tidak dapat mengatakan apa pun tentang adanya kehidupan di Titan, tetapi ada banyak molekul organik di sana, dan ada air, jadi ada banyak komponen yang mendukung kehidupan," tambahnya.

Hasil studi ini dipublikasikan di jurnal Science, Kamis kemarin. Diketahui bahwa bukan hanya Titan yang memiliki lautan di bawah permukaan. Lautan juga diduga ada di satelit Jupiter, Ganymede, Callisto, dan Europa.
Sumber :
kompas.com

Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Titan Terbukti Punya Lautan

Cara Baru Mendeteksi "Alien"

planet evolution (info) ,
NASA Gundukan pasir yang bergelombang di Kawah Herschel di Planet Mars yang berpindah sekitar dua meter antara 3 Maret 2007 dan 1 Desember 2010. Wahana Mars Reconnaissance Orbiter (MRO) milik NASA memperlihatkan gundukan-gundukan pasir dan gelombang pasir yang bergerak di permukaan Mars di beberapa lokasi.

Peneliti dari University of Cantebury menemukan cara baru untuk mendeteksi keberadaan alien atau makhluk hidup di luar angkasa, terutama yang berupa mikroba.
Cara tersebut dikembangkan berdasarkan pengetahuan produksi metana dan hidrogen lewat hidrolisis olivin atau serpetinisasi. Proses tersebut di Bumi terjadi saat mineral olivin bereaksi dengan air menghasilkan serpentina di sekitar wilayah ventilasi hidrotermal.
Christopher Oze dan timnya melakukan tes serpentinisasi dalam skala laboratorium. Ia mengukur rasio hidrogen dan metana yang dihasilkan. Hasil uji ini merepresentasikan rasio hidrogen dan metana, dengan kondisi tak ada makhluk hidup.
Tahap selanjutnya, Oze mengukur rasio hidrogen dan metana secara alami, yang merepresentasikan hasil proses serupa saat ada makhluk hidup. Kedua hasil itu kemudian dibandingkan, dan ternyata terdapat perbedaan di antara kedua hasil. Jika ada kehidupan, maka kelimpahan metana lebih besar.
"Cara ini memberikan momen ketika kita akhirnya menyadari bahwa metode ini bisa digunakan untuk mencari adanya kehidupan di planet lain," urai Oze seperti dikutip Discovery, Rabu (27/6/2012).

Dengan cara ini, pencarian kehidupan di Mars, misalnya, bakal bisa dilakukan dengan lebih mudah. Manusia di Bumi cukup mengirim robot dengan perangkat yang mampu menganalisis rasio hidrogen dan metana untuk mengendus adanya alien.
Sumber :
DISCOVERY , Kompas

Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Cara Baru Mendeteksi "Alien"

Kiamat Bisa Terjadi Jika Kutub Terbalik

Tuesday, February 21, 2012

planet evolution (info) ,

Kiamat atau kepunahan massal kehidupan di Bumi bisa terjadi dalam banyak cara, bergantung pada sudut pandangnya. Salah satu pandangan yang berkembang, kiamat bisa terjadi jika kutub terbalik, kutub selatan menjadi utara dan kutub utara menjadi selatan.


Skenario kiamat akibat kutub terbalik ialah bahwa jika kutub berbalik, benua akan bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, memicu gempa besar, perubahan iklim secara mendadak, dan kepunahan spesies di Bumi.

Kutub bisa terbalik jika susunan atom besi yang ada di lapisan dalam Bumi pun berubah, seperti magnet-magnet kecil yang berubah arah. Jika susunan atom-atom besi ini berubah, maka secara umum medan magnet Bumi pun akan mengalami perubahan.

Terbaliknya kutub, menurut ilmuwan, memang nyata. Sejarah pernah mencatat bahwa kutub terakhir terbalik pada masa 780.000 tahun yang lalu, atau pada Zaman Batu. Dan yang mengagetkan, Bumi saat ini sedang ada dalam proses pembalikan kutub.

Jean-Pierre Valet, peneliti yang melakukan riset tentang putaran geomagnetik, mengatakan, "Perubahan paling dramatis jika kutub terbalik adalah adanya penurunan besar total intensitas medan magnet Bumi."

Monika Karte Niemegk Geomagnetic Observatory di GFZ Postdam, Jerman, menguraikan, proses terbaliknya kutub bisa terjadi dalam waktu 1.000-10.000 tahun. Proses itu tak tiba-tiba, dan didahului proses melemahnya medan magnet Bumi.

John Tarduno dari University of Rochester menuturkan bahwa medan magnet Bumi sangat berpengaruh pada perlindungan terhadap badai Matahari. "Beberapa partikel terkait lontaran massa korona akan diblok dari Bumi. Jika medan magnet lemah, perlindungan kurang efisien," katanya.

Tarduno melanjutkan, partikel Matahari yang masuk ke atmosfer tanpa perlindungan medan magnet bisa membentuk lubang ozon lewat reaksi kimia. Lubang tak akan permanen, tapi bisa bertahan selama 10 tahun dan akan meningkatkan risiko kanker kulit.

Valet, seperti dikutip Life Little Mysteries, Rabu (15/2/2012), menyetujui dampak tersebut. Tahun lalu, dalam paper ilmiahnya, ia menguraikan bahwa kepunahan Neanderthals terjadi pada periode yang sama ketika medan magnet Bumi melemah.

Dampak lain, medan magnet Bumi melemah bisa merusak teknologi yang ada jika badai Matahari menghantam. Medan magnet yang melemah sendiri akan mengganggu banyak spesies yang mengandalkan geomagnetik untuk navigasi, seperti lebah, salmon, paus, dan penyu.

Beberapa hal yang terjadi akibat terbaliknya kutub mungkin meyakinkan beberapa kalangan bahwa kiamat bisa terjadi. Namun, tak sedikit juga ilmuwan yang meragukannya. Skenario kiamat akibat terbaliknya kutub dianggap sepenuhnya fantasi.

Contohnya adalah teori yang menyebut terbaliknya kutub bisa mengakibatkan bencana luar biasa akibat benua bergeser dan gempa. Alan Thompson dari British Geological Society, mengatakan, "Tak ada bencana akibat benua bergeser. Geolog bisa melihat dari fosil dan bukti lain."

Korte sendiri kurang meyakini kiamat bisa muncul akibat terbaliknya kutub. "Bahkan jika medan magnet Bumi melemah, kita yang ada di permukaan akan dilindungi oleh atmosfer. Sama halnya kita tak melihat dan merasakan medan magnet, kita juga takkan merasakan perubahannya."

Apakah Anda memercayainya? Yang jelas, menurut Thompson, perubahan susunan atom besi memang sedang terjadi di bagian bawah Brazilia dan Atlantik Selatan. Medan magnet berkurang sejak 160 tahun terakhir, memicu spekulasi adanya pembalikan kutub.

Namun, Thompson juga mengatakan bahwa pembalikan kutub pun bisa saja batal. Bumi adalah sistem yang terlalu kompleks untuk diketahui masa depannya. Di samping itu, waktu perubahan yang masih ribuan tahun bisa memberi kesempatan bagi manusia untuk beradaptasi.

Kompas.com


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Kiamat Bisa Terjadi Jika Kutub Terbalik

Planet Terhitam yang Pernah Ditemukan

Saturday, August 13, 2011

planet evolution (info) ,

Astronom berhasil menemukan planet terhitam yang mungkin lebih hitam dari arang. Planet itu bernama TrES 2-b dan merupakan planet gas raksasa seukuran Jupiter. Planet ini dideteksi untuk kali pertama pada tahun 2006 oleh Trans Atlantic Exoplanet Survey (TReS).

TrES-2b hanya bisa merefleksikan kurang dari 1 persen cahaya bintang. "TrES-2b bahkan kurang reflektif dari cat akrilik hitam," kata David Kipping dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics seperti dikutip AFP, Jumat (12/8/2011).

TrES-2b mengorbit bintang GSC 03549-02811 yang terletak pada jarak 750 tahun cahaya dari Bumi, tepatnya di konstelasi Draco. Jarak TrES-2b dengan bintangnya sangat dekat, hanya 5 juta kilometer. Bandingkan dengan jarak Bumi-Matahari yang mencapai 150 juta kilometer.

Karena jarak TrES-2b dan bintangnya dekat, suhunya begitu panas, atmosfernya dimasak hingga suhu 1.000 derajat celsius. TrES-2b mengemisikan cahaya merah redup, seperti warna kumparan pada kompor listrik yang dinyalakan.

Astronom telah menyelidiki sebab kehitaman planet. Memang, keberadaan senyawa penyerap cahaya seperti uap sodium, potasium, dan titanium oksida terdeteksi. Namun, semua senyawa itu belum bisa menjelaskan kehitaman ekstrem TrES-2b. "Belum jelas apa yang menyebabkan planet ini sangat gelap," kata David Spegel dari Princeton University yang juga terlibat penelitian.

Penyelidikan lanjut masih akan dilakukan nanti. Penemuan planet ini dipublikasikan di Monthly Notices Royal Astronomical Society, Inggris, bulan ini. TrES-2b adalah salah satu planet yang dideteksi dengan wahana antariksa Kepler.


sumber : kompas.com


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Planet Terhitam yang Pernah Ditemukan

Bukti Alam Semesta Lebih dari Satu

Monday, August 8, 2011

planet evolution (info) ,

Benarkah ada alam semesta selain yang kita diami sekarang? Teori fisika modern membenarkannya. Berdasarkan teori itu, semesta tak cuma satu, dunia adalah dunia yang multiverse. Semesta tempat kita hidup berada dalam sebuah gelembung di mana ada semesta lain yang terdapat di dalamnya. Tabrakan antarsemesta adalah hal yang mungkin terjadi.

Fisikawan dari University College London (UCL) kini mengembangkan cara untuk mendeteksi jejak tabrakan itu. Mereka membuat simulasi langit dengan atau tanpa tabrakan dan mengembangkan algoritma dasar untuk menentukan citra yang sesuai dengan data radiasi gelombang mikro kosmos dari Wilkinson Microwave Aniostropy Probe (WMAP) milik NASA.

Metode yang dikembangkan para ilmuwan itu dipublikasikan di jurnal Physics Review Letters dan Physical Review D yang terbit Juli 2011. Algoritma yang dikembangkan memiliki keampuhan sebab bisa menyelesaikan masalah yang sering dihadapi saat ini dalam mendeteksi jejak tabrakan antarsemesta.

"Semua pola-pola yang didapatkan dalam data acak terlalu mudah untuk diinterpretasikan lebih (seperti klaim penemuan pahatan wajah Mahatma Gandhi di Mars yang ternyata citra gunung). Jadi kami berhati-hati dalam melihat data, seberapa mungkin tanda tabrakan ini cuma kebetulan," kata Daniel Mortlock, ilmuwan UCL yang terlibat penelitian ini.

Mortlock mengatakan, dengan mengembangkan metode untuk mendeteksi tabrakan, teori bahwa dunia terdiri atas banyak semesta bisa dibuktikan atau dibantah. Selama ini, beberapa klaim penemuan jejak tabrakan antarsemesta ada, tapi belum bisa dipastikan bahwa jejak yang dimaksud adalah hasil tabrakan atau hanya noise dalam data.

Seperti dikutip Physorg, Rabu (3/8/2011), Stephen Feeney, pelajar UCL yang terlibat penelitian itu mengungkapkan, "Penelitian ini memberikan kesempatan untuk membuktikan teori yang benar-benar mengejutkan, bahwa kita ada dalam dunia yang multiverse, di mana semesta lain juga eksis di dalamnya." Bukti Alam Semesta Lebih dari Satu


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Bukti Alam Semesta Lebih dari Satu

Bumi Pernah Punya Dua Bulan?

planet evolution (info) ,

Bumi pernah punya dua bulan. Satu bulan berukuran kecil dan bulan lain berukuran 3 kali lebih lebar dan 25 kali lebih berat. Hal itu diungkapkan oleh astronom University of California, Erik Aspaugh, dan timnya dalam publikasi di jurnal Nature, Rabu (3/8/2011).

Dua bulan itu bersanding dengan Bumi hingga akhirnya bertabrakan yang disebut "Big Splat" dan terjadi pada 4,4 miliar tahun yang lalu. Dalam peristiwa itu, bulan yang lebih kecil menabrak bulan yang lebih besar. Saat itu, dua bulan yang konon terbentuk dari planet yang menghantam Bumi 100 juta tahun sebelumnya itu masih berusia muda.

Tabrakan berlangsung dengan kecepatan 8.000 km/jam, tergolong lambat secara astronomi. Saking lambatnya, Aspaugh mengumpamakan, "Orang akan bosan melihatnya sebab bahkan butuh waktu 10 menit bagi kancing untuk bisa terpendam di Bulan."

Akibat tabrakan lambat, batuan di dua bulan tidak meleleh. Bahkan, tak ada kawah yang tercipta karenanya. Material dari bulan yang lebih kecil hanya berhamburan di muka bulan yang lebih besar atau Bulan yang kita kenal sekarang.

Seperti diwartakan Foxnews, Rabu, Aspaugh mengungkapkan, tabrakan dua bulan itu menjelaskan mengapa permukaan Bulan yang jauh dari Bumi lebih berbukit-bukit. Menurut Aspaugh, bukit-bukit itu berasal dari hamburan material hasil tabrakan.

Jay Melosh dari Purdue University yang tak terlibat penelitian ini mengatakan, teori dua bulan ini ramai dibicarakan dalam konferensi NASA membahas proyek robotik ke Bulan di masa depan yang berlangsung minggu ini. "Tak ada yang salah dengan teori ini. Bisa saja benar, bisa saja salah," kata Melosh memberi tanggapan.

Benar atau salah, yang jelas Aspaugh beranggapan, "Dua bulan itu memang ditakdirkan bertabrakan. Tak ada jalan keluar dari itu." Bulan yang lebih besar memiliki gravitasi yang begitu kuat sehingga bulan yang lebih kecil tidak mampu melawan pengaruhnya.


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Bumi Pernah Punya Dua Bulan?

Minggu Ini, Badai Matahari Sambar Bumi

planet evolution (info) ,

Tiga letupan besar di permukaan Matahari sepanjang minggu lalu bakal menimbulkan gelombang badai elektromagnetik yang menyambar Bumi dalam beberapa hari ini. Dampak badai Matahari bisa menyebabkan gangguan satelit, perangkat telekomunikasi, serta elektronik dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah Amerika Serikat bahkan secara khusus mengeluarkan peringatan risiko tersebut.

"Badai Matahari yang akan terjadi berikutnya mungkin memiliki level sedang atau kuat," kata Joseph Kunches, ilmuwan dari Space Weather Prediction Center, divisi dari National Oceanic and Atmospheric Adaministration (NOAA).

Kunches mengungkapkan, badai Matahari yang terjadi minggu lalu dan berikutnya bisa berdampak pada satelit komunikasi dan Global Positioning System (GPS) dan bahkan dapat menciptakan aurora yang bisa dilihat dari wilayah Minesota dan Winconsin, Amerika Serikat.

Aurora yang tercipta, disebut aurora borealis, merupakan cahaya alami yang bisa dilihat di wilayah Artik dan Antartika. Fenomena itu terbentuk akibat tumbukan antara partikel berenergi tinggi dengan atom di lapisan atas atmosfer.

Menurut NOAA, kerusakan besar akibat badai Matahari jarang terjadi, namun pernah dilaporkan adanya dampak serius. Pada tahun 1989 misalnya, badai Matahari mengakibatkan pembangkit listrik di Quebec, Kanada, lumpuh sehingga warga setempat harus hidup tanpa listrik selama berjam-jam.

Sementara, dampak terbesar badai Matahari terjadi pada tahun 1859. Badai Matahari melumpuhkan sistem komunikasi telegraf di seluruh dunia dan mencipatakan aurora yang bisa dilihat hingga Karibia.

Sistem telegraf dilaporkan terus mengirimkan sinyal walaupun baterai telah dicopot. Bagaimana dengan dampak badai Matahari kali ini? Kunches mengungkapkan, "Saya pikir badai Matahari yang terjadi kali ini tak akan mendekati itu. Ini akan ada pada angka dua atau tiga dari lima pada skala NOAA Space Weather."

Tapi, tetap harus diwaspadai. Badai Matahari pertama yang terjadi minggu lalu mengakibatkan sedikit dampak di Bumi. Sementara badai yang kedua lebih kuat. Yang ketiga, masih belum dilaporkan, tetapi kemungkinannya bisa memperburuk badai Matahari yang kedua atau tidak berdampak sama sekali.

Direktur Space Weather Prediction, Tom Bogdan, mengatakan bahwa puncak badai Matahari terjadi setiap 12 tahun sekali. Seperti dikutip Reuters, Jumat (5/8/2011), ia memperkirakan badai Matahari berikutnya akan terjadi pada tahun 2013.


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Minggu Ini, Badai Matahari Sambar Bumi

NASA Temukan "Aliran Sungai" di Mars

planet evolution (info) ,

Kamera High Resolution Imaging Science Experiment (HiRiSE) yang ada pada Mars Reconaissance Orbiter (MRO) berhasil menangkap citra guratan pada kawah curam di Mars. Para ilmuwan mempercayai, guratan tersebut merupakan tanda keberadaan air yang mengalir layaknya sungai.

"Ini adalah air masa kini, bukan yang terdapat di masa lalu," kata Alfred McEwen, pakar ilmu keplanetan dari University of Arizona yang terlibat penelitian ini. Ia mengatakannya dalam konferensi pers yang diadakan NASA, Kamis (4/8/2011). "Penjelasan paling masuk akal dari hasil observasi sejauh ini adalah aliran air asin," sambung McEwen.

Meski demikian, ia buru-buru menegaskan bahwa hasil observasi yang dipublikasikan hari ini di jurnal Science ini bukanlah bukti keberadaan aliran air secara langsung. Meski demikian, alternatif penjelasan selain air mengalir masih belum ada.

"Membandingkan dengan Bumi, sulit menjelaskan bahwa guratan terbentuk dari aliran zat lain. Pertanyaannya adalah, apakah ini terjadi di Mars, dan bila ya, mengapa hanya di tempat tertentu," jelas Richard Zurek, pimpinan proyek MRO dari Jet Propulsion Laboratory NASA.

McEwen menjelaskan, dari guratan yang ditinggalkan, tampak bahwa air yang mengalir memiliki kekentalan yang tinggi, membuatnya lebih mirip dengan aliran sirup. Namun, McEwen menuturkan, "Kami belum tahu salinitas atau keasinan dari air yang mengalir itu."

Guratan-guratan itu merupakan guratan musiman yang terbentuk di musim panas membuat penampakan gelap dan seolah menghilang di musim dingin. Guratan sudah ditemukan di 7 lokasi dan kemungkinan di 20 lokasi lainnya lagi. Salah satunya ada di sekitar kawah Newton. Setiap lokasi penemuan kurang lebih memiliki 1000 guratan yang jika dilihat berbentuk seperti jari.

Lisa M Pratt, pakar biogeokimia dari Indiana Univerity mengatakan, guratan yang ditemukan bisa berpotensi menjadi tempat tinggal makhluk hidup, jika memang ada. Di Bumi, mikroba bisa hidup di air asin yang tak pernah membeku, atau bahkan bisa mengalami dormansi di air beku.

"Ini sangat spekulatif karena kita tidak tahu apakah ada organisme di sana, atau apakah pernah ada sebelumnya," kata Pratt seperti dikutip the New York Times hari ini.

Guratan-guratan pada kawah Mars itu pertama kali terobservasi oleh pelajar University of Arizona, Lujendra Ojha. Ia tengah mempelajari perubahan kecil yang ada di planet Mars ketika akhirnya menemukan struktur guratan tersebut.

"Saya bingung saat pertama kali melihatnya dalam gambar setelah saya memproses dengan algaritma," kata Ojha. "Tapi kami akhirnya sadar bahwa guratan itu ialah struktur berbeda dari yang ditemukan sebelumnya. Kami melihat bahwa ini struktur musiman dan bisa tumbuh hingga 200 meter dalam 2 bulan," sambung Ojha.

Konfirmasi struktur guratan yang tampak gelap dengan Compact Reconaissance Imaging Spectrometer for Mars (CRISM) memang tak menunjukkan tanda keberadaan aliran air secara langsung. Tapi, ini tak menutup kemungkinan adanya aliran air yang cepat kering atau hanya dalam jumlah sedikit di bagian sub permukaan.

Menjelaskan penampakan guratan yang gelap dan kemampuannya berubah menjadi terang, McEwen mengatakan, "Guratan tampak gelap bukan karena aliran air yang basah. Aliran air asin bisa menyusun kembali butiran-butiran atau mengubah kekasaran permukaan sehingga tampak gelap. Bagaimana guratan tampak terang lagi saat temperatur turun, belum ada penjelasan."

McEwen mengatakan, "Ini masih misteri saat ini. Tapi saya pikir ini misteri yang bisa dipecahkan dengan penelitian lebih lanjut."

Komas.com


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - NASA Temukan "Aliran Sungai" di Mars

Mikroba Bumi Lebih Ganas di Luar Angkasa

Saturday, July 30, 2011

planet evolution (info) ,
NASAPertumbuhan mikroflora pada para astronot di luar angkasa lebih cepat. Hal itu dikhawatirkan mengganggu metabolisme jika para astronot berlama-lama di dalam misinya.

Seorang profesor dari Pusat Penyakit Infeksi dan Vaksinologi di The Institute Biodesign, Arizona State University, Amerika Serikat, Cheryl Nickerson, Selasa (26/7/2011), mengatakan, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) perlu mengambil mikroba menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan misi ke luar angkasa.

Perlu pula menentukan obat yang digunakan untuk mencegah resistensi mikroba tersebut. Setidaknya, satu jenis mikroba yang bersifat patogen, yaitu Salmonella sp, diketahui akan lebih ganas di luar angkasa.

Perubahan gaya berat juga mengubah aktivitas jenis mikroba lain. Itu, di antaranya, bakteri Pseudomonas aeruginosa yang bisa mengganggu pernapasan, menunjukkan kemiripan perubahan genetik molekuler Salmonella.

"Penelitian ini setidaknya untuk mendapatkan vaksin yang lebih baik," kata Nickerson. (LIVESCIENCE.COM/NAW)


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Mikroba Bumi Lebih Ganas di Luar Angkasa

Besok, 4 Planet Bikin "Double Date"

Thursday, May 12, 2011

planet evolution (info) ,
STELLARIUM

Dini hari nanti empat planet yang terdiri atas Merkurius, Venus, Mars, dan Jupiter akan menggelar "double date". Venus akan berkencan dengan Jupiter, sementara Merkurius dengan Mars. Kencan keempat planet itu paling bagus disaksikan sekitar pukul 04.00-05.00 pagi.


Venus dan Jupiter akan bersinar terang. Saking terangnya sehingga tampak seperti dua supernova. Dua planet itu hanya terpisah 0,5 derajat, satu jari cukup untuk menyembunyikan planet dari pandangan. Venus akan bersinar pada magnitudo -3,8 dan Jupiter -2,1.

Merkurius akan terpisah 2 derajat dari Venus. Sementara Mars akan ada sedikit di bawah Merkurius. Sayangnya, cahaya Merkurius dan Mars tak seterang Venus dan Jupiter sehingga lebih sulit mengamati dua planet tersebut.

Pastinya, "double date" keempat planet itu bisa diamati bila langit cerah. Menurut para astronom, kencan keempat planet akan berlangsung 5 jam 38 menit. Pengamatan di siang hari juga mungkin dilakukan, tapi perlu trik sehingga tak merusak mata.

Waktu yang paling baik untuk pengamatan sendiri adalah saat subuh. Pengamatan bisa dilakukan dengan mata telanjang dengan mengarahkan pandangan ke timur. Hingga beberapa saat setelah Matahari terbit, keempat planet diperkirakan masih bisa terlihat.

Pada bulan Mei ini, planet-planet di tata surya kita memang sedang senang berkencan. Tanggal 13 Mei nanti, Merkurius, Venus, dan Jupiter akan membentuk segitiga. Pada tanggal 20 Mei, segitiga baru bisa diamati, terdiri atas Mars, Venus, dan Merkurius.

Kencan antarplanet adalah fenomena konjungsi planet. Selama bulan Mei, Jupiter, Mars, Merkurius, Venus, Uranus, dan Neptunus berada nyaris segaris di sepanjang garis edar semu Matahari. Sebagai final, tanggal 30 Mei nanti, lima planet akan tampak sekaligus.


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Besok, 4 Planet Bikin "Double Date"

Simulasi Perjalanan ke Asteroid Dimulai

planet evolution (info) ,
NASA Ilustrasi simulasi pendaratan di asteroid yang akan dilakukan di dasar laut.

NASA akan memulai simulasi misi ke asteroid dalam waktu dekat. Uniknya, simulasi misi ini dilakukan di lautan. Ilmuwan dan insinyur saat ini telah menuju National Oceanic and Atmospheric Administration Aquarius Underwater Laboratory di dekat Key Largo, Florida, untuk melakukan tes pada beberapa konsep yang dirancang.


Tim peneliti yang tergabung dalam NASA Extreme Environment Mission Operations (NEEMO) akan menginvestigasi beberapa tahap misi ke asteroid. Tahap itu meliputi bagaimana memasang jangkar pada asteroid, bagaimana harus bergerak di asteroid dan cara terbaik untuk mengoleksi data.

"Bahkan para ahli belum mengetahui bagaimana rupa permukaan asteroid. Ada kemungkinan kita akan mengunjungi asteroid yang belum pernah kita ketahui. Jadi, kami berupaya menemukan cara terbaik," kata manager proyek NEEMO, Bill Todd, seperti dikutip dari situs the Daily Mail, Selasa (10/5/2011).

Tak seperti planet atau bulan, ukuran asteroid relatif kecil sehingga mungkin tak ada gravitasi yang cukup untuk menarik astronot ataupun kendaraan luar angkasa. Dengan demikian, jangkar diperlukan. Tim NEEMO akan meneliti cara memasang jangkar dan cara menggabungkan jangkar, apakah garis lurus atau seperti jari-jari roda gerobak.

Rencananya, tim peneliti akan menghabiskan waktu 5 bulan untuk menganalisa konsep sebelum amengaplikasikannya pada Oktober mendatang. Selama tes ini, ilmuwan akan bekerja di dasar laut dan tak tinggal di Aquarius. Ini mengijinkan ilmuwan untuk kembali ke permukaan laut dan melengkapi peralatan tertentu jika diperlukan.


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Simulasi Perjalanan ke Asteroid Dimulai

Enam Planet Segaris di Langit Subuh

Wednesday, May 11, 2011

planet evolution (info) ,
STELLARIUM

KOMPAS.com — Selama Mei ini, penduduk Bumi dapat melihat enam planet anggota tata surya berada nyaris segaris di sepanjang ekliptika (bidang edar semu Matahari). Demikian artikel Geoff Gaherty di media online Space.com, Kamis (28/4/2011).

<a href='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a3126491&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=951&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a3126491' border='0' alt='' /></a>

Empat dari enam planet itu dapat dilihat dengan mata telanjang, yaitu Yupiter, Mars, Merkurius, dan Venus. Dua planet lain dapat dilihat dengan binokuler atau teleskop kecil, yaitu Uranus dan Neptunus.

Di Jakarta, planet-planet itu baru dapat diamati mulai pukul 04.40. Kelima planet selain Neptunus berada pada ketinggian 5-15 derajat di arah timur tempat Matahari terbit. Adapun Neptunus terpisah agak jauh di ketinggian 55 derajat.

Untuk dapat melihat planet-planet itu, langit harus cerah dan medan pandang ke ufuk timur tidak terhalang. Hambatan utama pengamatan adalah posisi planet yang rendah dan waktu pengamatan terbatas sampai pukul 05.00. Setelah itu, cahaya planet-planet yang redup akan kalah dengan sinar Matahari.

Yang termudah mencari Venus lebih dulu, yaitu planet terang dengan posisi paling tinggi di antara planet yang bisa diamati tanpa alat lain. Adapun planet terterang kedua, Yupiter, ada di bagian paling bawah. Sedikit di atas Yupiter terdapat Mars dan semakin ke atas ada Merkurius.
Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Enam Planet Segaris di Langit Subuh

Mineral Tertua di Tata Surya Ditemukan

planet evolution (info) ,

NASA
Ilustrasi bentuk tata surya yang tidak bulat seperti bola disimpulkan setelah Voyager 2 tida di batas heliosfer.

Meteorit berusia 4,5 juta tahun yang ditemukan di Afrika mengandung salah satu mineral tertua di tata surya. Mineral itu dinamai Krotite berdasarkan nama Alexander N Krot, ahli kimia kosmos yang berkontribusi besar dalam menerangkan proses awal pembentukan tata surya.


Anthony Kampf, kurator Mineral Sciences at the Natural History Museum of Los Angeles County, mengungkapkan, "Ini adalah satu mineral yang belum pernah diketahui sebelumnya hingga kami menemukannya di sini. Sangat dramatis."

Krotite ditemukan di sebuah meteorit bernama NWA 1934 CV3 carbonaceous chondrite. Menurut ilmuwan, chondrite merupakan meteorit primitif sisa pembentukan planet. Sebagian besar meteorit yang ditemukan di dekat Bumi masuk dalam jenis ini.

Krotite terdiri dari unsur kalsium, aluminium, dan oksigen. Krotite terbentuk pada suhu 1.500 derajat celsius. Mineral itu diperkirakan terbentuk kala nebula terkondensasi dan planet terbentuk. Melihat temperatur pembentukannya, Kritite diperkirakan merupakan mineral tertua di tata surya.

Untuk menemukan mineral itu, ilmuwan menelaah butir meteorit berukuran 4 mm yang disebut "telur retak" karena penampakannya. Selain Krotite, ilmuwan memperkirakan masih ada mineral baru lainnya dalam sampel yang sama.

Pemimpin penelitian, Chi Ma, dari Caltech, mengatakan, "Meteorit ini sepertinya berasal dari asteroid di wilayah sabuk asteroid." Ia mengatakan, mempelajari mineral dalam meteorit itu bisa membantu memahami proses terbentuknya tata surya.

Penemuan mineral baru ini dipublikasikan dalam jurnal American Mineralogist edisi Mei-Juni tahun ini. Ilmuwan memperkirakan bahwa dalam sampel yang sama masih ada 8 mineral lain yang bisa ditemukan.


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Mineral Tertua di Tata Surya Ditemukan

Endeavour Akan Diluncurkan pada 16 Mei

planet evolution (info) ,
NASA Pesawat ulang alik Endeavour bersiap di Kennedy Space Center, Florida.


NASA akan mencoba meluncurkan pesawat luar angkasa Endeavour pada 16 Mei 2011. Ini merupakan upaya kali kedua setelah rencana peluncuran pada 30 April 2011 gagal karena masalah sistem elektronik.


"Kami telah melakukan cek dari hulu ke hilir, menelaah seluruh sistem. Kami sangat percaya diri bahwa sudah tidak ada masalah, baik pada pesawat maupun elektroniknya," kata Mike Moses, pimpinan tim manajemen misi ini. Rencananya, Endeavour akan diluncurkan pada pukul 08.56 pagi waktu setempat.

Saat tiba di International Space Station (ISS), Endeavour akan bertemu pesawat Rusia, Soyuz, yang direncanakan kembali ke Bumi pada tanggal 23 Mei 2011. Misi Endeavour kali ini melibatkan 6 astronot dan akan dipimpin oleh Mark Kelly.

Muatan senilai 2 miliar dollar AS yang dibawa oleh pesawat ini berguna untuk meneliti alam semesta, terutama tentang materi gelap dan antimateri. Setelah misi ini, Endeavour akan mengakhiri kariernya dan masuk museum.

Pesawat luar angkasa Discovery sudah lebih dulu pensiun setelah menuntaskan misi terakhirnya pada Maret lalu. Tak lama lagi, pesawat Atlantis juga akan pensiun. Peluncuran terakhir Atlantis sebenarnya dijadwalkan pada 28 Juni. Namun, hal itu diundur menjadi setelah tanggal 4 Juli karena masalah pada Endeavour.

Jika peluncuran nanti gagal lagi, maka Endeavour baru bisa diluncurkan pada minggu ketiga Juni. Hal itu berkaitan dengan akan adanya kedatangan kru dari ISS dan sudut matahari yang kurang mendukung. Presiden Barack Obama rencananya akan menghadiri peluncuran terakhir itu, demikian juga dengan ratusan ribu orang lainnya.

Diperkirakan jumlah orang yang melihat peristiwa ini lebih sedikit dari yang hadir saat peluncuran terakhir Discovery. Walau demikian, acara ini diperkirakan masih akan tetap padat penonton.


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Endeavour Akan Diluncurkan pada 16 Mei

Atmosfer Titan Hasil Tumbukan Komet

planet evolution (info) ,

NASA
Perbandingan Bumi dengan Titan, salah satu bulannya Planet Saturnus.

Titan, salah satu bulan planet milik Saturnus, diketahui merupakan satu-satunya benda di tata surya yang memiliki atmosfer berkadar nitrogen dan densitas tinggi. Saking tingginya, tekanan di atmosfer Titan mencapai 50 persen lebih tinggi dari Bumi.


Atmosfer seperti yang dimiliki Titan biasanya terbentuk ketika bulan itu telah terdiferensiasi menjadi inti, mantel, dan lempengan. Namun, eksplorasi wahana luar angkasa Cassini pada 2004 menemukan bahwa Titan belum sepenuhnya terdiferensiasi.

Sebelumnya, ada beberapa teori tentang pembentukan atmosfer Titan. Ada teori yang mengatakan bahwa nitrogen terbentuk dari pemecahan molekul ammonia di atmosfer oleh Matahari, ataupun berasal dari gunung berapi. Tetapi, proses itu menuntut temperatur tinggi.

Ide bahwa atmosfer terbentuk lama setelah Titan ada didukung oleh penelitian dengan wahana luar angkasa Huygens yang meneliti Titan pada 2005. Titan diketahui memiliki kadar argon yang rendah. Kadarnya akan lebih tinggi bila atmosfer terbentuk bersama bulannya sendiri.

Hadir dengan teori baru, peneliti Universitas Tokyo, Yasuhito Sekine, mengatakan, "Kami berpendapat, nitrogen di atmosfer Titan terbentuk setelah pembentukan Titan sendiri, lewat proses konversi ammonia dalam periode Late Heavy Bombardment sekitar 4 miliar tahun lalu."

Late Heavy Bombardment dikenal sebagai sebuah periode di mana benda angkasa seperti komet dan asteroid membombardir 100.000 kali lebih sering dari saat ini. "Hujan" komet dan asteroid pada masa itulah yang dimaksud Sekine menjadi pemicu pembentukan atmosfer Titan.

Sebelum mengemukakan pendapatnya, Sekine melakukan eksperimen laser gun untuk membuktikan bahwa nitrogen terbentuk dalam tumbukan pada es ammonia yang merepresentasikan kerak Titan. Kalkulasi membuktikan bahwa Titan memiliki cukup nitrogen untuk membentuk atmosfer saat ini.

Studi Sekine dipublikasikan di jurnal Nature baru-baru ini. Sekine mengatakan, studi lebih detail tentang atmosfer dan es benda angkasa di tata surya luar, termasuk komet, akan membantu menerangkan dengan akurat pembentukan atmosfer Titan.

Bumi, seperti Titan, merupakan planet yang atmosfernya didominasi oleh nitrogen. Namun, rasio isotop nitrogen di Titan dan Bumi berbeda. Hal itu mengindikasikan bahwa Bumi mendapatkan sumber nitrogen yang juga berbeda.


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Atmosfer Titan Hasil Tumbukan Komet

NASA Buktikan Kebenaran Teori Einstein

planet evolution (info) ,

Dua ramalan Albert Einstein dalam teori relativitas terbukti benar oleh misi Gravity Probe B milik NASA. Sebelumnya, teori Einstein tersebut sulit dikonfirmasi.


"Teori Einstein bertahan," kata Francis Everitt, kepala penelitian dari Stanford University, California, Amerika Serikat, Rabu (4/5/2011) lalu.

Ada dua aspek dalam teori Einstein mengenai gravitasi. Aspek pertama adalah efek geodesi, efek pembelokan ruang dan waktu di sekitar benda bergravitasi, seperti planet. Aspek kedua adalah "frame dragging", yakni jumlah struktur ruang dan waktu yang terbawa oleh objek berputar.

Untuk menguji teori ilmuwan kelahiran Jerman tersebut, NASA mengirim Gravity Probe B untuk mengorbit Bumi. Pesawat itu dilengkapi sebuah alat yang disebut "pelacak bintang" untuk mengikuti sebuah bintang bernama IM Pegasi. Jika efek geodesi dan frame dragging tidak ada, pelacak bintang seharusnya selalu terkunci dengan bintang selamanya.

Jika Einstein benar, arah putaran Gravity Probe B akan berubah sedikit demi sedikit akibat massa dan rotasi Bumi. Everitt menganalogikan efek ini dengan bola berotasi di dalam madu. "Madu dan benda-benda yang juga berada di dalam madu akan terseret," jelas Everitt.

Dengan menganalisis data, tim peneliti menemukan perubahan orientasi sekitar 6.600 miliarcsecond setahun-1 miliarcsecond, kata Everitt, sama dengan lebar sehelah rambut manusia dilihat dari jarak 16 kilometer. Perubahan yang sangat kecil yang mungkin Einsten sendiri pun sulit tunjukkan. Dalam bukunya The Meaning of Relativity, Einstein menuliskan, "Efek frame dragging muncul berdasarkan teori kami, meskipun tingkatannya sangat kecil sehingga pembuktian dengan entah eksperimen laboratorium apa yang harus dilakukan."

Pembuktian ini dapat membuat ilmuwan memahami beberapa kejadian di alam semesta. "Mengukur efek frame dragging akibat rotasi bumi punya implikasi besar," kata ahli fisika Clifford Will dari Washington University di St. Louis yang tidak terlibat dalam penelitian.

Contohnya, kata Will, frame dragging sepertinya punya peranan dalam memicu ledakan energi dari kuarsa, galaksi yang sangat jauh yang secara aktif berperan dalam lubang hitam.
Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - NASA Buktikan Kebenaran Teori Einstein

Dua Bintang "Berdansa" Menuju Kematian

Tuesday, April 19, 2011

planet evolution (info) ,
Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics Ilustrasi dua bintang katai putih yang hampir mati saling mengelilingi satu sama lain dengan periode 39 hari.

KOMPAS.com — Para astronom yang tergabung dalam program survei Ariz di Observatorium MMT di Gunung Hopkins di Tucson, Arizona, Amerika Serikat, berhasil menemukan sistem bintang katai putih kembar yang jarak antarbintangnya hanya 225.000 kilometer. Jarak ini lebih dekat dibanding jarak rata-rata Bumi dan Bulan sejauh 380.000 kilometer.

Kedua bintang saling mengitari dengan kecepatan 435 kilometer per detik dan menyelesaikan satu putaran dalam waktu 39 menit. Bintang katai putih yang pertama berukuran 17 persen dari massa Matahari. Adapun bintang kedua berukuran 43 persen massa Matahari.

Jarak yang sangat dekat membuat tarikan gravitasi antarkeduanya akan semakin besar. Akibatnya, kedua bintang itu diperkirakan akan saling bertabrakan dan menjadi satu pada 37 juta tahun lagi.

"Bintang-bintang ini telah menikmati kehidupan pertamanya. Setelah bertabrakan dan bergabung menjadi satu bintang baru, ia akan menjalani kehidupan keduanya," kata Mukremin Kilic, astronom dari Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian kepada Sciencedaily, Rabu (6/4/2011). (SCIENCEDAILY/MZW)


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Dua Bintang "Berdansa" Menuju Kematian

Aquarius Akan Pantau Lautan dari Langit

planet evolution (info) ,
NASA Aquarius

KOMPAS.com — Sesuai nama Dewa Laut dalam mitologi Yunani, wahana satelit terbaru NASA yang diberi nama Aquarius akan segera diluncurkan dan digunakan untuk memantau kondisi lautan. Pada 9 Juni mendatang, NASA berencana meluncurkan wahana ruang angkasa terbarunya itu.

Satelit baru ini akan sangat bermanfaat bagi para ilmuwan yang mempelajari siklus air di bumi serta hubungannya dengan arus laut dan iklim. Aquarius memetakan konsentrasi larutan garam di permukaan laut yang akan melengkapi data hasil pengamatan temperatur permukaan laut yang telah lebih dulu dimonitor melalui satelit.

Aquarius juga akan menyediakan data terkini tentang kadar garam di lautan sehingga para ilmuwan dapat memahami kaitan kadar garam dengan curah hujan dan penguapan, atau pencairan dan pembekuan es, serta pengaruhnya terhadap perbedaan iklim.

Aquarius dilengkapi dengan instrumen radiometer gelombang mikro, sebuah komponen yang dikembangkan untuk mengukur kadar garam dari luar angkasa. "Radiometer ini adalah radiometer paling stabil dan akurat yang dikembangkan untuk melakukan pemantauan dari luar angkasa," kata Shannon Rodriguez-Sanabria, seorang spesialis komunikasi gelombang mikro di Goddard Space Flight Center, NASA, Greenbelt, Md.

Selama melakukan misinya, Aquarius akan mengumpulkan data secara terus-menerus ketika terbang pada orbit dekat-kutub dan mengelilingi bumi 14-15 kali sehari. Sudut pandang instrumennya yang mencapai bentangan selebar 390 kilometer akan memasok peta global setiap tujuh hari. Data ini kemudian digabungkan untuk menghasilkan data bulanan yang lebih akurat selama misi berlangsung serta dirancang agar bisa jadi acuan minimal dalam jangka waktu tiga tahun. (National Geographic Indonesia/Agung Dwi Cahyadi)


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Aquarius Akan Pantau Lautan dari Langit

Wisata Antariksa hingga Tambang Asteroid

planet evolution (info) ,
ESA/DLR/FU Berlin (G. Neukum) Dua gunung Ceranus Tholus dan Uranius Tholus di belahan utara Planet Mars

KOMPAS.com - Masyarakat dunia baru saja memperingati 50 tahun penerbangan manusia ke antariksa. Berbagai kalangan, memuji keberanian Yuri Gagarin, kosmonot asal Rusia yang menjadi aktor dalam misi penerbangan manusia ke antariksa menggunakan Vostok 1, 12 April 1961 lalu.

Di tengah perayaan itu, terbersit satu pertanyaan. Jika penerbangan antariksa menjadi begitu maju 50 tahun setelah misi Gagarin, lalu bagaimana dengan penerbangan antariksa 50 tahun ke depan? Bagaimana kemajuan teknologi, wilayah penelitian dan fenomena yang mungkin muncul?

Laporan Space.com mengungkap bahwa perubahan besar akan muncul di masa mendatang. Perusahaan komersial akan mengambil alih operasi di dekat Bumi, sementara NASA dan lembaga antariksa lainnya bisa melakukan misi lain, mengirimkan astronot ke Mars dan asteroid.

Transformasi itu sekarang telah dimulai dengan adanya pihak swasta yang mengembangkan teknologi penerbangan antariksa. Pada tahun 2061, jutaan orang mungkin telah pergi ke luar angkasa dan ribuan mungkin hidup di sana. Pos permanen manusia mungkin juga ada di Bulan dan manusia mungkin bisa menginjak Mars.

Alan Stern, Presiden Direktur Divisi Antariksa Southwest sebuah LSM di San Antonio, Research Institute mengatakan, "Kita sudah ada di tengah perubahan paradigma itu. Dalam 15 tahun, kita akan melihat ke belakang dan mengatakan, itu adalah saat yang spesial."

Wisata Luar Angkasa

Salah satu yang mungkin tercipta berkait peran swasta adalah wisata luar angkasa. Keikutsertaan pihak swasta membuat biaya penerbangan antariksa lebih murah. Dengan demikian, wisata ke luar angkasa bisa menjadi kegiatan keseharian dalam 50 tahun mendatang.

Beberapa perusahaan swasta kini tengah mengembangkan teknologinya. Virgin Galactic misalnya, akan mampu membawa turis ke suborbital pada tahun 2012 dengan ongkos 200.000 dollar AS per orang. Perusahaan yang juga mengembangkan di antaranya Blue Origins dan Master Space System.

Wisata orbital mungkin juga tak akan tertinggal. Perusahaan seperti Space Exploration Technology (SpaceX) tengah mengembangkan kendaraan berawak yang bisa membawa konsumen ke International Space Station (ISS) atau stasiun luar angkasa komersial yang mungkin akan muncul nanti.

"Dalam 50 tahun, perusahaan dan instansi pemerintah mungmkin telah mengatasi tantangan teknologi yang ada kini sehingga memungkinkan roket point-to-point atau transportasi hipersonik," kata George Whitesieds, presiden dan CEO Virgin Galactic.

Menambang Asteroid

Wisata luar angkasa mungkin akan berkembang pesat nantinya. Namun untuk mendukung ekspansi manusiia di luar Bumi, industri antariksa di luar Bumi juga harus dikembangkan. "Orang harus mengupayakan model bisnis yang menguntungkan di aspek lain selain wisata," kata Stern.

"Bob Gigelow sudah memiliki satu, dengan stasiun luar angkasa komersialnya. Kita perlu 50 Bob Gigelow," cetus Stern. Bob Bigelow, seorang pengusaha asal Amerika Serikat, kini tengah mengembangkan stasiun luar angkasa komersial di bawah bendera Bigelow Aerospace.

Stern menuturkan, selain stasiun luar angkasa, masih banyak kesempatan yang ada. Manusia bisa mengembangkan teknologi untuk menambang logam dari asteroid maupun mengekstrak air di Bulan untuk dijadikan bahan bakar roket hingga bisa dijual di stasiun pengisian bahan bakar di orbit Bumi.

Jika para pengusaha dan perusahaan melihat prospek n-bisnis antariksa, maka Whitesides mengatakan, "50 tahun lagi, saya berharap jutaan orang punya kesempatan berwisata ke luar angkasa dan ribuan hidup di sana. Terminal di Bulan dan Mars mungkin. Wisata ke Bulan masih mahal, namun dimungkinkan."

Lembaga Swasta

Swasta mungkin menjadikan penerbangan antariksa makin murah. Tapi, ketika hal itu terjadi, bagaimana dengan peran lembaga antariksa milik pemerintah yang kini mendominasi pengembangan teknologi penerbangan luar angkasa? Apakah mereka menjadi tidak berguna?

Doug Cooke, Associate Administrator Exploration Systems Mission Directorate NASA mengatakan, "Jika urusan yang lain bisa ditangani, maka kami bisa berkonsentrasi pada upaya eksplorasi dan penemuan baru. Sebab untuk tujuan itulah kami sebetulnya ada."

NASA telah melirik perusahaan swSpaceX untuk membantu menangani transportasi pengiriman astronot ke luar angkasa. Presiden Obama sendiri telah merancang misi antariksa yang lebih jauh, yakni ke asteroid pada tahun 2025 dan ke Mars pada tahun 2030. Di Mars, NASA bisa mencari bukti kehidupan dan keberadaan mikroba.

Untuk mencapai planet merah, perjalanan ke Bulan dan asteroid mungkin akan dilakukan dahulu. Perjalanan ke salah satu bulannya Mars, Phobos, mungkin juga menjadi salah satu langkah perantara yang potensial. Diharapkan, perjalanan itu bisa membantu 'memetakan' jalan ke Mars.

Sebagai lembaga antariksa, kini NASA tengah mengembangkan kemampuan untuk terbang lebih jauh dari orbit rendah Bumi. NASA juga tengah mengembangkan kendaraan luar angkasa yang lebih besar untuk mengakomodasi kru dalam perjalanan selama 6 bulan ke Mars.

Cooke mengatakan, tantangannya adalah kendaraan heavy-lift. Wahana setara dengan stasiun luar angkasa internasional harus dibangun lagi untuk sampai di Mars. Sistem pendaratan juga mesti dikembangkan. "Kita mungkin akan mengupayakan secara internasional hingga menguntungkan dunia," kata Cooke.

Sementara, bagi lembaga penerbangan komersial, faktor yang perlu dipertimbangkan adalah keselamatan. Faktor kecelakaan harus seminim mungkin sehingga bisa diterima.

Jika seluruh hal berjalan mulus, maka 50 tahun kemudian, manusia bisa mendobrak batasannya, membangun peradaban di luar Bumi. Pada 12 April 2061, masyarakat akan lebih menghargai jasa dan keberanian Gagarin dan langkah perubahan yang dibuat saat ini.


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - Wisata Antariksa hingga Tambang Asteroid

33.000 Asteroid Baru Ditemukan

planet evolution (info) ,
NASA Asteroid Mathilde 253 berukuran 59 x 47 km yang direkam pada 27 Juni 1997.

KOMPAS.com — Misi pemetaan langit menggunakan wahana antariksa Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE) berhasil menemukan setidaknya 33.000 asteroid baru yang berada di wilayah antara Mars dan Yupiter serta 20 komet.

Seluruh hasil penemuan tersebut kini bisa diakses secara online di situs WISE. Bagi astronom amatir, data tersebut bisa diakses dengan meng-klik gallery WISE.

Pete Schultz, antariksawan dari Brown University yang tak terlibat proyek ini, mengungkapkan, "Penemuan spektakuler yang kini bisa diakses ini membuktikan bahwa kita memiliki banyak tetangga baru."

Edward Wright dari UCLA yang memimpin investigasi mengatakan, "Mulai saat ini, ribuan mata akan melihat data WISE dan saya mengharapkan kejutan."

Sedangkan William Keel, astronom University of Alabama, telah menggunakan data tersebut untuk deteksi kuasar.

WISE diluncurkan pada Desember 2009. Pada Oktober 2010, pendingin hidrogen di wahana antariksa itu habis dan hanya bisa memperpanjang misi selama empat bulan. Mulai Februari 2011, WISE memasuki masa hibernasi.

Selama 14 bulan misi sejak peluncuran, WISE berhasil menangkap 2,5 juta gambar dari orbit polarnya. Data yang dirilis online saat ini hanya 57 persen dari yang telah diobservasi, sedangkan data lainnya akan dirilis pada 2012.

Misi WISE dikelola oleh Jet Propulsion Laboratory NASA. Misi tersebut adalah kelanjutan dari misi pemetaan langit menggunakan gelombang inframerah, Infrared Astronomical Satellite, yang diluncurkan pada tahun 1983.


Read more: http://wawanwae.blogspot.com/2009/01/cara-membuat-related-post-posting.html#ixzz0rTVhPOvn
READ MORE - 33.000 Asteroid Baru Ditemukan